Dan kaki jenjang itu, masih berjalan menembus salju. Kakinya yang dibungkus sepasang boot kulit berwarna hitam berhak tinggi itu susah payah menembus salju yang makin tebal menumpuk. Tujuannya hanya satu.
Hanya untuk meletakkan sebuah buket mawar di sana, dan langsung menghilang. Kali ini, tak sempat berkata-kata.
Hanya dia dan Tuhan yang tahu, dia terus berbisik dalam hatinya.
Maafkan aku. Maafkan aku.
Meskipun wanita itu sudah lama memutuskan untuk tak memercayai Tuhan lagi.
S P I D E R W E B
Paresseux
Karena aku tak pernah, tak pernah
Merasa cukup.
Sebuah band menyambut kedatangan Sasuke dan Naruto malam itu. Lagi-lagi—karena sudah tiga hari berturut-turut mereka terus datang ke tempat itu, hanya untuk minum. Sasuke menghela napas. Jadi, ada tugas lain baginya kali ini. Selain menjadi bawahan, juga menjadi teman minum. Untuk masalah finansial, tak masalah karena ia selalu dibayari. Tapi, ada soal lain.
"Hai, Sakura-chan!" terdengar pintu kayu yang berderit terbuka, dan pria itu melambaikan tangannya. Seorang wanita membalas lambaian tangannya itu sambil tersenyum, memberi tanda untuk mendekat.
"Selamat datang," Sakura menggeser tempat duduknya. "Kalian datang lagi berdua. Sering sekali, ya?" Pandangan matanya menatap seseorang yang ada di sebelah Naruto sekilas. "Sejak Sasuke promosi jabatan... sepertinya kau sekarang sudah cukup banyak uang untuk pergi minum setiap hari." Wanita itu tersenyum mengejek.
Sasuke mendengus. "Dia yang ingin aku temani," katanya sambil duduk, "aku sebenarnya tidak ingin minum lagi." ujarnya dengan wajah agak stres. Tentu saja. Mengingat tiga hari penuh acara minum-minum—hanya dengan Naruto, yang maniak minum—dan berakhir dengan dia harus mengantar Naruto yang teler ke apartemennya. Begitu terus setiap hari. Seminggu saja dia seperti ini, dia bisa-bisa hangover. Bukan, bukan karena dia kebanyakan alkohol—melainkan pusing harus menghadapi kelakuan Naruto setiap hari. Apalagi mereka selalu minum di sini.
Karena Naruto ingin bertemu Sakura.
Sakura? Oh yeah, sepertinya sahabat—eh—rekan kerjanya yang Don Juan ini berencana untuk menggaet wanita itu sebagai incaran berikutnya. Sebetulnya terserah saja, Sasuke sama sekali tak berminat memikirkannya. Meskipun mereka masih bersaudara, yah—siapa yang peduli? Naruto sendiri juga tak berkata apa-apa padanya, namun Sasuke dapat mengetahuinya dari gerak-gerik pria itu.
Belum lagi dia harus kebingungan menghadapi Naruto yang terus bertanya-tanya, Sakura itu siapa? Bagaimana dia? Apa dia punya pekerjaan lain? Sasuke menghela napas dalam-dalam.
Senyum terkembang di bibir Sakura. "Terserah." Dia memberi tanda pada bartender yang sedang tidak bekerja untuk mengantarkan minuman. "Kalau begitu aku duluan. Sudah waktunya untuk stage performance. Malam ini lagunya spesial."
"Yaa, aku akan menontonmu dari sini," Naruto menepuk pundak Sasuke, "dan Sasuke juga."
Suasana ruangan itu seperti biasa remang-remang. Para tamu kembali tenang di kursinya. Suasana mendadak sunyi. Dentingan piano mengawali intro lagu, yang kemudian berlanjut dengan untaian nada-nada saksofon dan kemudian disusul dengan full band. Terlihat Sakura yang mengambil napas, dan berikutnya sebuah lagu mengalun lembut dari suaranya yang bening.
Be still, my heart
Lately its mind is on its own
It would go far and wide
Just to be near you
Even the stars
Shine of it bright I've noticed
When you're close to me
Suara wanita itu menggema ke sekeliling ruangan, membawa atmosfer yang hangat. Di sisi lain, misterius. Bahkan kali ini tak ada lagi tamu yang bicara. Mata mereka terpaut pada sang penyanyi yang duduk di sebuah kursi di atas panggung dengan santai. Bibirnya membentuk senyum tipis yang ditebarkannya pada seluruh penonton, membuat mereka makin terbuai.
Bahkan bagi seorang Naruto yang biasanya biang ribut dan kemarin-kemarin sudah sibuk meneriakkan encore sebelum lagu selesai, kali ini duduk manis di atas kursinya. Sesekali meminum Long Island miliknya sedikit demi sedikit. Menatap penyanyi itu dengan wajah kagum.
"Sepertinya kau datang hanya untuk melihat perempuan itu," komentar Sasuke sambil mengisap rokoknya. "Dia incaranmu berikutnya?" katanya tak peduli.
Naruto menoleh dan menatap Sasuke dengan pandangan kesal. "Enak saja! Bukan 'incaran', aku hanya tertarik dengannya!" gerutunya kesal.
"Oh, terserah, tapi aku yakin berikutnya akan begitu. Tenang saja, aku sama sekali tak berniat mengganggumu. Silakan saja—toh aku juga ingin tahu sampai mana dia akan bertahan denganmu."
"Jangan bodoh," Naruto terkekeh, "memangnya tidak apa-apa? bukannya kalau adik perempuannya didekati lelaki lain, biasanya kakak laki-lakinya akan marah dan melabrak pria itu?" tanyanya sambil mengambil minuman lagi.
yBased Yourabusedbitch Hr Index Php Option Com Content Task View Id 35 Itemid 2 Your Abused Bitch SPIDERWEB Chapter 3: Paresseux, a Naruto fanfic - FanFiction.Netq Your Abused vBased Yourabusedbitch Hr Index Php Option Com Content Task View Id 35 Itemid 2 Your Abused Bitch SPIDERWEB Chapter 3: Paresseux, a Naruto fanfic - FanFiction.Netu h Abused Your